(Fungsi dan Berubahnya Praktik Ibadah)
Lanjutan Edisi Sebelumnya
FAKTA dari adanya fenomena masjid NU yang berubah praktik ibadahnya atau masjid yang telah dikuasai oleh kelompok-kelompok “pengusung” bid’ah, takhayyul, takfir dan semacamnya harus ditanggapi dengan serius. Pemetaan secara geografis dengan basis wilayah dominan bagi kelompok NU harus benar-benar dijadikan pertimbangan. Masjid yang secara kepemilikan telah bersertifikat NU bahkan amaliah yang telah lama dijalankan, tidak cukup dianggap sebagai aman akan susupan dari kelompok lain. Terbukti di sejumlah wilayah khususnya Ponorogo sendiri, ditemukan adanya pengambil alihan masjid oleh sekelompok lain, meski telah mengakar adanya rutinitas dan amaliah Nahdiyyin. Hal tersebut diperparah dengan pelarangan sejumlah rutinitas ubudiyah yang telah menjadi rutinitas di wilayah tersebut.
Berangkat dari problem yang terjadi, ada beberapa upaya yang perlu diwujudkan guna menanggulangi masalah yang muncul. Kami menawarkan solusi beserta pola pencegahan, setidaknya dapat ditempuh dalam upaya menanggulangi problem yang lahir belakangan.
Pertama, ideologisasi. Upaya ini dapat ditempuh dengan penggencaran progam-progam ideologis yang menyisir tingkat paling bawah khususnya pada pengurus ataupun ta’mir masjid/musholla. Para pengurus atau takmir masjid/musholla didorong untuk dapat mengikuti agenda ideologisasi formal yang disesuaikan dengan target sasaran. Semisal di tingkat IPNU/IPPNU dengan Masa Kesetiaan Anggota (MAKESTA), Ansor dengan jenjang Pelatihan Kader Dasar (PKD), hingga Pendidikan Kader Penggerak Nahdhatul ‘Ulama (PKPNU). Ideologisasi melalui kegiatan formal memiliki misi khusus pembekalan pemahaman seputar NU paling mendasar. Disamping itu, sebagai upaya pengamanan dan penguatan wacan yang ditransformasikan lewat nilai-nilai perjuangan NU. Hal tersebut akan dapat membekali masyarakat sebagai alat dalam perjuangan sosial dan keagamaan yang menjadi komitmen NU.
Kedua, menggiatkan agenda-agenda NU secara terpusat di masjid. Banyaknya progam dan agenda NU kadang kala justru tidak tepat sasaran. Hal tersebut sangat disayangkan jika tidak mempertimbangkan kondisi serta problem yang terjadi di tengah masyarakat. Anggapan bahwa di wilayah tertentu, amaliah NU telah mengakar kuat, sehingga mengesampingkan masjid sebagai basis geografis menjadi terlalaikan. Menjadikan dan mengembalikan masjid sebagai pusat kegiatan NU, sebisa mungkin kegiatan-kegiatan baik itu sosial keagamaan jika memungkinkan berpusat di masjid. Pola ini beririsan dengan proses ideologisasi. Mengadakan majlis-majlis ilmu secara rutin dengan mengkaji beberapa tema aplikatif di masjid-masjid secara berkala dengan konsep safari atau menetap akan lebih menggalakan agenda ideologisasi secara tidak langsung. Di samping sebagai sarana memberikan pemahaman kepada masyarakat lewat kajian keilmuan juga dalam rangka menguatkan praktik amaliah NU yang, sampai hari ini tidak berhenti diserang oleh kelompok Islam garis keras.
Ketiga madingisasi. Progam ini menjadi sarana alternatif dalam penyaluran pemahaman paling lemah namun juga dapat dijadikan langkah pencegahan. Majalah dinding adalah salah satu jenis media komunikasi massa tulis yang paling sederhana. Prinsip majalah tercermin lewat penyajiannya, baik yang berwujud tulisan, gambar, atau kombinasi dari keduanya. Dengan prinsip dasar bentuk kolom-kolom, bermacam-macam hasil karya, seperti lukisan, vinyet, karikatur, cerita bergambar, infografis dan sejenisnya disusun secara variatif yang bernuansa Ahlussunah wal jama'ah an nahdliyah. Semua materi itu disusun secara harmonis sehingga keseluruhan tampilan tampak menarik perhatian jama’ah.

Tinggalkan Komentar