Buletinwasatha.web.id—Rasulullah SAW menjelaskan kepada kita, apabila ada perpecahan di kalangan umat Islam atau ketika banyak perbedaan pendapat di kalangan umat Islam, maka solusinya adalah dengan mengikuti golongan yang paling banyak.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه يَقُوْلُ : سَمْعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّ أُمَّتِي تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلاَلَةٍ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ اِخْتِلاَفًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ اْلأَعْظِمِ

Artinya: Dari Anas bin Malik, ia berkata: aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya ummatku tidak akan sepakat dalam kesesatan. Jika kalian melihat perbedaan atau berselisihan, maka ikutilah golongan yang besar atau kelompok mayoritas (Hadis diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan al-Thabrani. Al-Hafidz al-Suyuthi menjelaskan bahwa hadis ini adalah shohih dalam al-Jami’ al-Shaghir 1/88).

Lalu, siapakah Ahlussunnah Wa al-Jamaah itu?

Menurut Syeih Al-Zabidi, penyusun kitab Ithaf Sadat al-Muttaqien, syarah dari kitab Ihya’ Ulumiddin milik al-Ghazali, bahwa yang dimaksud dengan Ahlussunnah adalah pengikut dari madzhab al-Asy’ari dan al-Maturidi.

إِذَت أُطْلِقَ أَهْلُ السُّنَّةِ وَالجَمَاعَةِ فَالمُرَادُبِهِمُ اْلأَشَاعِرَةُ وَالْمَاتُرِيْدِيَّةُ

Artinya: Apabila disebut Ahlussunnah, maka yang dimaksud adalah pengikut al-Asy’ari dan pengikut Al-Maturidi

Pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab Ziyadat al-Ta’liqat menjelaskan siapa Ahlussunnah tersebut.

أَمَّا أَهْلُ السُّنَةِ فَهُمْ أَهْلُ التَّفْسِيْرِ وَالْحَدِيْثِ وَالْفِقْهِ فَإِنَّهُمْ الْمُهْتَدُوْنَ الْمُتَمَسِّكُوْنَ بِسُنَّةِ النَّبِيْ صلى الله عليه وَسلم والخُلَفَاءِ بَعْدَهُ الرَّاشِدِيْنَ وَهُمْ الطَّائِفَةُ النَّاجِيَةُ قَالُوْا وَقَدْ اجْتَمَعَتْ الْيَوْمَ فِي مَذَا هِبَ أَرْبَعَةٍ الحَنَفِيُّوْنَ وَالشَّافِعِيُّوْنَ وَالْمَالِكِيُّوْنَ وَالْحَنْبَلِيُّوْنَ.


Artinya: Adapun Ahlussunnah adalah mereka yang masuk dalam kelompok ahli tafsir, ahli hadis dan ahli fiqh. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti dan berpegangangan kepada Sunnah Nabi, khalifah empat setelah Rasul (al-khulafa’u al-rasyidun). Mereka (yang mengikuti Nabi dan Khalifah yang empat) adalah kelompok yang selamat. Para ulama mengatakan, mereka yang selamat tersebut terkumpul dalam mazhab yang empat saat ini yaitu madzhab Hanafi, Syafi’i, Maliki dan Hambali. 

Lalu apa yang dimaksud dengan Jama’ah? Untuk menjelaskan Jama’ah kita mengikuti apa yang dijelaskan oleh Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dalam kitab al-Ghunyah li al-Tholibi Thoriqi al-Haq juz 1 halaman 80 dan Syaikh Abu al-Fadl bin Abdussyakur dalam al-Kawakib al-Lamma’ah halaman 8-9. Syaikh Abdul Qadir menjelaskan sebagai berikut.


فَالسُنَةٌ مَاسَنَّهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْجَمَاعَةُ مَا اتَّفَقَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى خِلاَفَةِ اْلأَئِمَّةِ اْلأَرْبَعَةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ رَحْمَةُ الله عَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ 


Artinya: Assunnah adalah apa yang telah disunnahkan Rasulullah (perkataan, perbuatan dan ketetapan Rasulullah SAW). Sedangkan Jama’ah adalah apa yang disepakai oleh para sahabat Rasululullah SAW pada masa khilafah yang empat (al-khulafau al-rasyidun) yang diberi pentunjuk (Semoga rahmat Allah untuk mereka semua).

Sementara itu Syaikh Abi al-Fadl mengatakan.

أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ الَّذِيْنَ لاَزَمُوْاسُنَّةَ النَّبِيِّ وَطَرِيْقَةَ الصَّحَابَةِ فِى الْعَقَائِدِ الدِّيْنِيَّةِ وَالأَعْمَالِ الْبَدَنِيَّةِ وَاْلأَخْلاَقِ القَلْبِيَّةِ.


Artinya: Ahlussunnah wa al-Jama’ah adalah mereka yang melanggengkan sunnah Nabi, jalannya para sahabat dalam bidang akidah agama, amal-amal lahiriyah dan ahlak hati.

Faktanya adalah bahwa NU adalah organisasi dengan pengikut terbesar sekaligus mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan juga mengikuti jalannya Shahabat Rasulullah SAW.***