KH. Asnawi Kudus

KHR Asnawi Kudus merupakan salah seorang ulama besar sekaligus tokoh penting dalam sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU). Kisah akhir hayatnya memiliki catatan yang sangat menarik. Setelah menghadiri Muktamar ke-22 NU di Jakarta pada Desember 1959, ulama sepuh asal Kudus tersebut kembali ke kampung halamannya. Hanya beberapa hari kemudian, ia wafat dalam usia sekitar 98 tahun.

Perjalanan terakhir Kiai Asnawi menuju Muktamar NU tersebut bukan sekadar perjalanan seorang peserta. Di usia yang telah sangat lanjut, ia masih menunjukkan kecintaan dan keterikatannya terhadap organisasi yang turut ia dirikan. Bahkan, Muktamar ke-22 NU di Jakarta kemudian tercatat sebagai muktamar terakhir yang dihadiri KHR Asnawi Kudus.

Kabar Wafat KHR Asnawi Kudus Setelah Muktamar NU ke-22

Seminggu setelah Muktamar ke-22 Nahdlatul Ulama (NU) berakhir, kabar duka datang dari Kudus, Jawa Tengah. KHR Asnawi Kudus wafat setelah sebelumnya menghadiri Muktamar NU ke-22 yang berlangsung di Jakarta.

Kabar wafatnya dimuat oleh Duta Masjarakat, surat kabar yang ketika itu menjadi media milik Nahdlatul Ulama. Dalam edisi Senin, 28 Desember 1959, harian tersebut menempatkan berita wafatnya Kiai Asnawi di halaman pertama dengan judul “KH Asnawi Seorang Ulama Besar Meninggal Dunia dalam Usia 98 Tahun”.

Berita yang dikutip dari Kantor Berita Nasional Antara tersebut menyebut Kiai Asnawi wafat pada malam Sabtu dalam usia sekitar 98 tahun akibat kondisi lanjut usia. Dalam catatan itu pula disebutkan bahwa hanya beberapa hari sebelumnya, Kiai Asnawi masih menghadiri Muktamar ke-22 NU di Jakarta.

“Pada malam Sabtu jang baru lalu, KH Asnawi, salah-seorang ulama besar jang bertempat tinggal di Kudus, wafat dalam usia 98 tahun, karena penjakit tua. KH Asnawi, jang pada Minggu jang lalu masih ikut menghadiri Muktamar ke XXII NU di Djakarta, terbilang salah-seorang pendiri NU dan guru dari Rois Aam NU, KH Abdulwahab Chasbullah.”

Keterangan tersebut memperlihatkan betapa kuatnya hubungan KHR Asnawi dengan perjalanan awal Nahdlatul Ulama. Ia bukan hanya dikenal sebagai ulama besar dari Kudus, tetapi juga sebagai salah seorang tokoh yang memiliki posisi penting dalam sejarah kelahiran dan perkembangan NU.

Ucapan Duka dari PBNU dan Tokoh Nahdlatul Ulama

Pada halaman terakhir edisi yang sama, Duta Masjarakat juga memuat berbagai ucapan belasungkawa atas wafatnya KHR Asnawi Kudus. Salah satunya datang dari Pengurus Besar Partai Nahdlatul Ulama.

“TURUT BERDUKA TJITA. Pada Tanggal 25 Desember 1959 Hari Djum'at djam 02.30 telah dipanggil ke hadirat Ilahi, dalam usia lk 98 tahun, di tempat kediamannja di Kudus. ROMO K.H. ASNAWI. Salah seorang ulama besar jang telah menunaikan tugas bakti selama masa hidupnja untuk kepentingan da'wah Islamijah.”

Ucapan duka tersebut menggambarkan penghormatan besar terhadap perjalanan hidup Kiai Asnawi. Selama hidupnya, ia dipandang telah mengabdikan diri bagi dakwah Islam dan perjuangan umat.

Selain PBNU, sejumlah tokoh dan lembaga juga menyampaikan belasungkawa. Di antaranya Harian Duta Masjarakat, Ketua PBNU KH Idham Chalid, Ketua Fraksi NU H Achmad Sjaichu, Wakil Perdana Menteri H Zainul Arifin, Sekretaris Jenderal PBNU H Saifuddin Zuhri, hingga Sekretaris PW GP Ansor Sumatera Selatan Mardjan Moechtar.

Kenangan KH Saifuddin Zuhri tentang Perjalanan Terakhir Kiai Asnawi

Beberapa hari setelah wafatnya KHR Asnawi, tepat pada edisi terakhir Duta Masjarakat tahun 1959, KH Saifuddin Zuhri menulis sebuah artikel khusus berjudul “Mengenang Ulama Besar KHR Asnawi”.

Tulisan tersebut menggambarkan suasana setelah Muktamar ke-22 NU berakhir. Para pengurus dan peserta masih berada dalam keadaan lelah setelah mempersiapkan dan menyelenggarakan muktamar besar tersebut. Di tengah suasana itulah berita wafatnya Kiai Asnawi tiba.

“Kami baru sadja selesai menjelenggarakan Mu'tamar ke 22. Djasmaniah kami masih letih, rohaniah kami masih penat karena mempersiapkan penjelenggaraan wadah dan isi Mu'tamar jang serba besar.”

Kiai Saifuddin Zuhri mengenang bagaimana berita tersebut diterimanya melalui sambungan telepon setelah waktu subuh. Reaksi pertamanya hanyalah mengucapkan kalimat Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, sebuah pengingat bahwa manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Yang membuat peristiwa tersebut semakin berkesan adalah kenyataan bahwa Kiai Asnawi baru tiga malam kembali ke rumahnya di Jalan Bendan, Kudus. Sebelumnya, ulama yang telah berusia sekitar 98 tahun itu baru saja menyelesaikan perjalanan pulang-pergi Kudus–Jakarta untuk menghadiri Muktamar NU.

Perjalanan tersebut mencapai sekitar 1.200 kilometer dan ditempuh menggunakan kendaraan darat. Bagi seseorang yang telah berusia hampir satu abad, perjalanan itu tentu bukan sesuatu yang ringan. Namun menurut kesaksian KH Saifuddin Zuhri, kondisi fisik Kiai Asnawi masih cukup kuat untuk menempuh perjalanan tersebut.

Bahkan, selama perjalanan, Kiai Asnawi tetap memanfaatkan kesempatan untuk bertemu dan bersilaturahmi dengan banyak orang. Kebiasaan menjalin hubungan dengan masyarakat dan para ulama memang menjadi bagian penting dari kehidupannya.

KHR Asnawi Wafat Saat Bersiap Menjalankan Shalat Tahajud

KH Saifuddin Zuhri juga mencatat saat-saat terakhir kehidupan KHR Asnawi Kudus. Menurut keterangannya, Kiai Asnawi wafat ketika hendak melaksanakan shalat tahajud pada Jumat malam Sabtu, 26 Desember 1959 atau 25 Jumadil Akhir 1379 Hijriah, sekitar pukul 02.15 dini hari.

“Ketika hendak takbiratul ichram, hendak berdiri sembahjang, dirasakan badannja sangat penat, tak mampu untuk berdiri. Duduklah beliau sedjenak untuk menahan rasa sesak di dadanja, sambil mengumpulkan kekuatan untuk sembahjang tahadjud. Namun, ajal telah sampai.”

Catatan tersebut menggambarkan bahwa hingga akhir hayatnya, Kiai Asnawi masih berusaha menjalankan ibadah malam yang telah menjadi bagian dari kebiasaan spiritualnya.

Kesaksian Keluarga tentang Malam Terakhir KHR Asnawi Bendan

Kisah mengenai saat-saat terakhir Kiai Asnawi juga kembali ditulis oleh salah seorang cicitnya, HM Aslim Akmal, melalui akun Facebook pada 15 Desember 2025. Kisah tersebut diperoleh dari penuturan sang ibu, Hj Sunaifah.

Menurut cerita keluarga, menjelang fajar pada tanggal 25 Jumadal Akhirah, KHR Asnawi Bendan wafat ketika sedang melaksanakan shalat. Posisi persis ketika beliau wafat tidak diketahui secara pasti, apakah dalam keadaan rukuk atau sujud.

Saat itu, Kiai Asnawi disebut sedang melaksanakan shalat sambil duduk di tepi tempat tidur dan menghadap kiblat. Keheningan menjelang fajar kemudian pecah oleh tangisan keluarga yang mengetahui wafatnya ulama sepuh tersebut.

Sebelum wafat, Kiai Asnawi masih menjalankan kebiasaan yang telah lama dilakukannya, yakni mandi pada sepertiga malam terakhir. Meski telah berusia sangat lanjut, ia masih mengambil air langsung dari sumur untuk keperluan mandi.

Sumur tersebut tidak terlalu dalam, sekitar empat meter. Karena itu, Kiai Asnawi masih melakukannya sendiri. Setelah mandi, ia melanjutkan ibadah dengan shalat-shalat sunnah hingga menjelang waktu subuh.

Dalam kesehariannya, Kiai Asnawi kemudian melaksanakan shalat Subuh berjamaah bersama para santri di Pondok Bendan. Namun pada Subuh ketika ia wafat, kebiasaan tersebut tidak lagi dapat dilaksanakannya.

Ribuan Orang Mengantarkan Jenazah KHR Asnawi Kudus

Wafatnya KHR Asnawi Kudus meninggalkan duka yang mendalam, bukan hanya bagi keluarga dan lingkungan pesantren, tetapi juga masyarakat luas serta warga Nahdlatul Ulama.

Jenazah Kiai Asnawi dimakamkan di kompleks pemakaman Sunan Kudus yang berada di belakang Masjid Menara Kudus. Perjalanan dari rumah duka menuju tempat pemakaman berjarak sekitar tiga kilometer.

Ribuan orang dikabarkan memenuhi sepanjang jalan untuk mengantarkan ulama besar tersebut ke tempat peristirahatan terakhirnya. Dalam suasana hujan rintik-rintik, KH Maksum Lasem yang merupakan salah seorang Syuriah PBNU membacakan talqin.

Sementara itu, KH Bisri Musthafa menyampaikan uraian mengenai jasa dan perjuangan KHR Asnawi sebagai seorang ulama besar dan tokoh penting Nahdlatul Ulama.

Muktamar NU ke-22 Jakarta, Muktamar Terakhir Kiai Asnawi

Muktamar ke-22 Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan di Jakarta pada 13–18 Desember 1959 atau 12–17 Jumadil Akhir 1379 Hijriah menjadi muktamar terakhir yang dihadiri KHR Asnawi Kudus.

Kehadiran tersebut memiliki makna tersendiri dalam perjalanan hidupnya. Sejak Muktamar NU pertama yang berlangsung di Surabaya pada tahun 1926, Kiai Asnawi hampir selalu menghadiri penyelenggaraan muktamar.

Artinya, perjalanan hidup KHR Asnawi tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang Nahdlatul Ulama. Dari masa awal berdirinya organisasi hingga perkembangan NU beberapa dekade kemudian, ia tetap menunjukkan keterlibatan dan perhatian terhadap organisasi tersebut.

Wasiat KHR Asnawi Kudus: Manusia Tempat Salah dan Dunia Selalu Berubah

Pada penutupan Muktamar ke-22 NU, KHR Asnawi Kudus yang ketika itu berusia sekitar 98 tahun menyampaikan nasihat sebelum memimpin doa penutup.

Pesan tersebut kemudian dimuat dalam buku Kenang-kenangan Mu'tamar ke-XXII Partai Nahdlatul 'Ulama di Jakarta yang diterbitkan PBNU pada tahun 1960.

Dalam nasihatnya, Kiai Asnawi mengingatkan dua hal mendasar: manusia adalah tempat lupa dan salah, sedangkan kehidupan dan dunia selalu mengalami perubahan.

“Oleh karena manusia tempat lupa, tempat salah, al-insan machallul chotho' wan nisjaan, ingat, djangan sampai lupa ini. Kedua, supaja manusia senantiasa ingat, bahwa al-alamu mutaghojjirun.”

Pesan tersebut dapat dipahami sebagai ajakan agar manusia tidak terlalu larut dalam perubahan. Dunia akan terus bergerak dan keadaan tidak akan selalu sama. Perubahan adalah bagian dari kehidupan.

Karena itu, manusia tidak perlu terus-menerus menggerutu terhadap sesuatu yang memang merupakan bagian dari perubahan. Rambut yang dahulu hitam akan memutih. Wajah dan tubuh juga mengalami perubahan seiring bertambahnya usia. Semua itu merupakan bagian dari kenyataan hidup.

Jangan Merasa Paling Pintar

Bagian lain dari nasihat KHR Asnawi yang tidak kalah penting adalah peringatan agar manusia tidak merasa paling pandai.

“Orang itu apa sadja merasa bodoh. Tidak ada jang tidak bodoh. Djangan merasa pinter sendiri! Djangan! Jang bodoh ada jang bodoh lagi, jang pinter ada jang lebih berpangkat, biar tinggi ada jang lebih tinggi lagi! Hanja ALLAH sendiri jang semporna.”

Pesan tersebut sesungguhnya mengandung pelajaran tentang kerendahan hati dalam ilmu dan kehidupan. Setinggi apa pun pengetahuan seseorang, selalu ada keterbatasan yang dimiliki manusia.

Manusia dapat memiliki ilmu, pengalaman, jabatan, atau kedudukan. Namun tidak satu pun manusia yang memiliki kesempurnaan. Karena itu, merasa paling benar dan paling pintar justru dapat menjadi awal dari hilangnya kesediaan untuk belajar.

Wasiat yang Tetap Relevan

Lebih dari enam dekade setelah nasihat tersebut disampaikan, pesan KHR Asnawi Kudus masih terasa relevan. Manusia tetap menjadi makhluk yang dapat lupa dan melakukan kesalahan. Dunia pun terus mengalami perubahan yang sering kali tidak dapat dikendalikan oleh manusia.

Dalam kehidupan yang semakin cepat berubah, pesan untuk tidak mudah mengeluh terhadap perubahan, tetap rendah hati, serta tidak merasa paling pintar justru menjadi semakin penting.

Muktamar ke-22 NU mungkin menjadi pertemuan terakhir yang dihadiri Kiai Asnawi. Namun sebelum menutup perjalanan hidupnya, ia meninggalkan sebuah pesan sederhana yang memiliki makna panjang: jangan lupa bahwa manusia dapat salah, jangan melawan kenyataan bahwa dunia berubah, dan jangan pernah merasa paling pintar.

Di situlah barangkali salah satu warisan penting KHR Asnawi Kudus. Seorang ulama yang di usia hampir satu abad masih menempuh perjalanan jauh untuk menghadiri Muktamar NU, dan beberapa hari kemudian mengakhiri hidupnya setelah tetap menjalankan kebiasaan ibadah di penghujung malam.

Sejarah mungkin mencatat tanggal wafat dan perjalanan perjuangannya. Namun nasihatnya tentang perubahan, kesalahan manusia, dan kerendahan hati tampaknya masih layak terus dibaca.