Ilustrasi Bulan Suro

Anggapan mistis terhadap bulan Suro tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat Jawa, khususnya. Namun, di balik berbagai anggapan tersebut, bulan Suro memiliki banyak keistimewaan. Keyakinan yang berkembang di masyarakat semestinya dipahami sebagai ungkapan penghormatan terhadap keistimewaan bulan tersebut.

Dalam kalender Hijriah, bulan Suro bertepatan dengan bulan Muharam. Sebelum masuknya Islam, terdapat dua sistem penanggalan yang telah berkembang di kalangan masyarakat Jawa. Pertama, kalender Pranatamangsa yang digunakan untuk menandai pergantian musim. Kedua, kalender Saka yang banyak digunakan oleh masyarakat Hindu untuk menentukan momentum ritual keagamaan.

Sejarah Kalender Jawa-Islam

Ketika Sultan Agung Hanyokrokusumo naik takhta sebagai raja ketiga Kesultanan Mataram, masyarakat Jawa masih menggunakan kalender Saka yang berasal dari India. Sultan Agung menginginkan agar berbagai perayaan adat dan keagamaan dapat berlangsung pada waktu yang selaras.

Kalender Saka didasarkan pada pergerakan matahari, sedangkan kalender Islam atau Hijriah didasarkan pada pergerakan bulan. Perbedaan sistem tersebut menyebabkan perayaan-perayaan adat yang diselenggarakan oleh keraton tidak selalu selaras dengan perayaan hari-hari besar Islam.

Oleh karena itu, kemudian diciptakan sistem penanggalan baru yang merupakan perpaduan antara kalender Saka dan kalender Hijriah. Perubahan penanggalan ini berlaku di Pulau Jawa dan Madura, kecuali Banten karena wilayah tersebut tidak termasuk dalam kekuasaan Mataram.

Perubahan sistem penanggalan tersebut dilakukan pada hari Jumat Legi, ketika pergantian tahun baru Saka 1555 yang bertepatan dengan tahun baru Hijriah 1 Muharam 1043 H dan 8 Juli 1633 M.

Mengapa Bulan Suro Bertepatan dengan Muharam?

Pergantian sistem penanggalan ini tidak mengubah hitungan tahun Saka 1555 menjadi tahun pertama, melainkan meneruskannya dengan berbagai penyesuaian. Sistem perhitungan yang sebelumnya berdasarkan pergerakan matahari diganti dengan perhitungan berdasarkan pergerakan bulan, sebagaimana penanggalan Hijriah.

Dengan demikian, bulan Suro bertepatan dengan bulan Muharam. Penanggalan dan nama bulan menggunakan sistem Islam, sedangkan angka tahun dan nama-namanya tetap menggunakan sistem Jawa.

Maka, lahirlah nama-nama bulan dalam kalender Jawa-Islam, yaitu Suro, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Poso, Sawal, Dulkangidah, dan Besar.

Nama-nama tersebut memiliki kemiripan dengan urutan bulan dalam kalender Hijriah, yaitu Muharam, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Syaban, Ramadan, Syawal, Dzulkaidah, dan Dzulhijjah.

Makna Suro dan Tanggal 10 Muharam

Kata Suro berasal dari kata Asyura atau Asyiroh yang berarti sepuluh. Kata Asyura merujuk pada tanggal 10 Muharam yang berkaitan dengan beberapa peristiwa penting, seperti wafatnya Sayyidina Husein, cucu Nabi Muhammad SAW; peristiwa Nabi Adam AS yang diterima taubatnya; Nabi Idris yang memperoleh derajat luhur atas sikap kasih sayangnya terhadap sesama; Nabi Isa yang memperoleh kitab Taurat ketika berada di Bukit Tursina (Sinai); serta Nabi Nuh yang terlindungi dari bahaya banjir bersama umatnya yang patuh.

Selain itu, disebutkan pula peristiwa Nabi Ibrahim yang terhindar dari bahaya api dan fitnah Raja Namrud; Nabi Yusuf yang bebas dari tahanan Raja Mesir akibat tuduhan zina dengan Dewi Zulaikhah; Nabi Ya’qub yang sembuh dari penyakit mata setelah lama menangisi kepergian putranya, Yusuf; Nabi Yunus yang keluar dari perut ikan; Nabi Sulaiman yang memperoleh istana yang indah; Nabi Daud yang disucikan dari segala dosanya; Nabi Musa yang selamat dari kejaran Fir’aun dan kaumnya; serta Nabi Muhammad SAW yang memperoleh Al-Qur’an sebagai pegangan hidup sepanjang masa bagi umatnya.

Keistimewaan Bulan Muharam

Melalui berbagai peristiwa tersebut, Muharam sebagai permulaan tahun kemudian dipahami sebagai momentum kebangkitan. Pada bulan Muharam pula, umat Islam meyakini luasnya rahmat Allah SWT sehingga manusia dianjurkan untuk berlomba-lomba memperoleh rahmat-Nya.

Keagungan bulan ini penting untuk dipahami agar dapat memberikan pelajaran bagi kita semua dalam meningkatkan dan memaksimalkan ibadah kepada Allah SWT. Keistimewaan bulan Muharam hendaknya tidak justru menjadi alasan untuk melakukan penyimpangan atau perbuatan yang dilarang oleh syariat agama.

Sebaliknya, momentum bulan Suro dan Muharam dapat dijadikan kesempatan untuk memperbanyak amal kebaikan, memperbaiki diri, memperkuat ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.