Buletinwasatha.web.id—Pertanyaan ini penting karena NU sering diserang oleh kelompok lain atau organisasi lain sebagai organisasi yang sering mengamalkan hadis dho’if. Wong dalilnya lemah/tidak kuat kok diamalkan kata mereka. Untuk itu, perlu diketahui bahwa hadis dho’if adalah hadis yang dibawah derajat hadis Hasan. Hadis Hasan sendiri adalah hadis dibawah derajat hadis Shohih. Hadis Dho’if dibagi dua yaitu hadis dho’if yang diberi penguat oleh hadis-hadis lain. Dalam kondisi ini, hadis Dho’if telah naik derajatnya menjadi hadis Hasan Lighoirihi. Dalam kategori ini, hadis Dho’if tersebut boleh diamalkan. Sedangkan kedua, hadis Dho’if yang tidak ada penguat hadis lain atau ada hadis lain, tetapi hadis lain tersebut dipermasalahkan perawinya. Dalam kategori kedua ini, hadis Dho’if boleh diamalkan untuk kepentingan al-Targhiib wa al-Tarhiib (janji dan ancaman). Para ulama menyebut dua istilah tersebut dengan hadis fadhail al-a’maal yaitu hadis yang menjelaskan keutamaan-keutamaan dalam beribadah. Sayyid ‘Alawi al-Maliki menjelaskan dalam kitab Majmu’ al-Fatawa wa Rasaila halaman 251 bahwa mengamalkan hadis Dho’if untuk Fadhailu al-A’mal diperbolehkan.


أَجْمَعَ أَهْلُ الْحَدِيْثِ وَغَيْرُهُمْ عَلَى أَنَّ الْحَدِيْثَ الضَّعِيْفَ يُعْمَلُ بِهِ فِيْ فَضَائِلِ اْلأَعْمَالِ وَمِمَّنْ قَالَ بِذَلِكَ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ ابْنُ حَنْبَلٍ وَابْنُ الْمُبَارَكِ وَالسُّفْيَانَانِ وَالْعَنْبَرِيُّ وَغَيْرُهُمْ. فَقَدْ نُقِلَ عَنْهُمْ أَنَّهُمْ قَالُوْا إِذَا رَوَيْنَا فِيْ الْحَلاَلِ وَالْحَرَامِ شَدَدْنَا وَإِذَا رَوَيْنَا فِي الْفَضَائِلِ تَسَاهَلْنَا.


Artinya: Ahli Hadis dan ulama lain telah sepakat bahwa hadis Dho’if dapat diamalkan untuk Fadhail al-A’mal. Di antara yang mengatakan demikian adalah Imam Ahmad bin Hanbal, Ibn Mubarak, Sufyan, al’Ambari dan lain-lain. Telah dikutip dari mereka semua bahwa mereka mengatakan “apabila kami meriwatkan masalah halal dan haram kami sangat ketat (berhati-hati), tetapi apabila kami meriwayatkan masalah keutamaan-keutamaan ibadah, kami melonggarkannya (tidak ketat).” 

Untuk memagari agar tidak sembarangan dalam mengamalkan hadis,Sayyid ‘Alawi al-Maliki membuat tiga syarat untuk mengamalkan hadis Dho’if tersebut. Pertama, hadis tersebut bukanlah hadis yang dho’ifnya “terlalu” (sangat dho’if). Jika perawinya mashur sebagai pembohong, suka berbuat dosa kecil (fasiq) dan lain-lain hadis tersebut jangan diamalkan. Kedua, hadis Dho’if berada dibawah naungan landasan yang umum, tidak bertentangan dengan hadis shohih. Ketiga, pengambilan hadis tersebut dalam rangka berhati-hati dalam mengamalkan ajaran (agar ada dalilnya).